Seni Berkomunikasi dalam Krisis: Pelatihan Komunikasi Empati Relawan Maluku

Dalam situasi darurat atau bencana, bantuan fisik seperti makanan dan obat-obatan memang sangat krusial, namun ada satu aspek yang sering kali terlupakan namun memiliki dampak yang sama besarnya, yaitu cara berkomunikasi dengan para penyintas. Di wilayah Maluku, yang memiliki karakteristik sosial budaya yang khas dan sejarah panjang dalam menghadapi berbagai dinamika sosial, kemampuan untuk menyampaikan informasi di tengah situasi genting memerlukan keahlian khusus. Palang Merah Indonesia (PMI) setempat menyadari bahwa setiap relawan harus memiliki penguasaan terhadap seni berkomunikasi yang berlandaskan pada empati mendalam agar pesan kemanusiaan yang disampaikan tidak justru memicu ketegangan atau trauma tambahan bagi masyarakat yang sedang berduka.

Pelatihan komunikasi empati yang digalakkan bagi relawan di Maluku difokuskan pada kemampuan mendengarkan secara aktif. Sering kali, para penyintas bencana hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan keluh kesah mereka tanpa memberikan penghakiman atau saran yang prematur. Dalam konteks krisis, kata-kata yang salah diucapkan dapat memperburuk kondisi psikologis korban. Oleh karena itu, para relawan diajarkan untuk menggunakan bahasa tubuh yang terbuka, nada bicara yang tenang, dan pemilihan diksi yang menyejukkan. Di sinilah aspek seni berperan, di mana seorang relawan harus mampu membaca situasi emosional lawan bicaranya secara instan dan menyesuaikan frekuensi komunikasinya agar tercipta rasa saling percaya di tengah kekacauan yang terjadi.

Selain teknik mendengarkan, pemahaman terhadap kearifan lokal Maluku menjadi materi inti dalam pelatihan ini. Budaya “Pela Gandong” yang menjunjung tinggi persaudaraan lintas komunitas merupakan modal sosial yang sangat besar dalam manajemen krisis. Relawan diajarkan cara menggunakan simbol-simbol budaya dan istilah lokal yang akrab di telinga masyarakat untuk meredam kepanikan. Komunikasi dalam krisis bukan hanya tentang memberikan instruksi evakuasi, tetapi tentang bagaimana memberikan harapan melalui kata-kata yang menyentuh nurani. Dengan pendekatan budaya yang tepat, instruksi medis atau logistik yang sulit sekalipun akan lebih mudah diterima dan dipatuhi oleh masyarakat karena mereka merasa dihargai secara martabat kemanusiaannya.

Mungkin Anda juga menyukai