Stop Wabah! Jurus Jitu PMI Mencegah Penyakit di Lokasi Pengungsian

Lokasi pengungsian pasca-bencana adalah lingkungan yang sangat rentan terhadap ledakan kasus penyakit menular. Kepadatan penduduk yang tinggi, sanitasi yang terbatas, dan stres berkepanjangan menciptakan ‘koktail’ sempurna bagi penyebaran penyakit seperti diare, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), hingga penyakit kulit. Oleh karena itu, salah satu fokus utama Palang Merah Indonesia (PMI) dalam operasi kemanusiaan adalah menjalankan jurus jitu yang terpadu untuk Mencegah Penyakit di antara para penyintas. PMI menggunakan pendekatan holistik, tidak hanya mengobati, tetapi juga mengeliminasi akar masalahnya.

Ambil contoh penanganan pasca-banjir besar di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang terjadi pada bulan Februari 2025. Ribuan warga harus mengungsi di tenda-tenda darurat yang didirikan di lapangan sepak bola setempat. Kepala Posko Kesehatan PMI Karawang, Dr. Siti Nuraini, segera mengidentifikasi bahwa langkah paling krusial untuk Mencegah Penyakit adalah manajemen air bersih dan sanitasi. Tim Water Sanitation and Hygiene (WASH) PMI segera bergerak cepat.

Langkah pertama adalah penyediaan air minum yang aman. PMI mendirikan unit pengolahan air portabel yang mampu menghasilkan 10.000 liter air bersih per hari. Air ini disalurkan ke titik-titik distribusi yang diawasi ketat. Selain itu, relawan mengajarkan masyarakat cara penggunaan tablet klorin dan pentingnya merebus air, sebagai langkah preventif ganda.

Langkah kedua adalah penataan sanitasi. Dalam waktu 48 jam setelah posko didirikan, relawan PMI dan relawan lokal yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kesehatan Bencana, membangun 20 unit toilet darurat dengan standar jarak yang memadai dari area tidur dan dapur umum. Selain itu, tempat sampah dipisahkan antara sampah organik dan non-organik, dan jadwal pengangkutan sampah dilakukan dua kali sehari, pagi pukul 07.00 WIB dan sore pukul 16.00 WIB. Disiplin sanitasi ini adalah kunci untuk Mencegah Penyakit yang ditularkan melalui feses dan air.

Langkah ketiga, yang merupakan fondasi keberhasilan program kesehatan, adalah promosi kesehatan secara masif. Setiap hari Senin dan Kamis, tim promosi kesehatan PMI mengadakan sesi edukasi yang berfokus pada teknik mencuci tangan yang benar (enam langkah) dan etika batuk/bersin. Mereka juga mendistribusikan Hygiene Kit (sabun, sikat gigi, handuk, dan kebutuhan wanita) secara merata kepada setiap kepala keluarga. Dampaknya terlihat nyata; hingga akhir bulan Maret 2025, angka kasus diare di pengungsian Karawang tercatat sangat rendah, yakni kurang dari 50 kasus dari total 3.000 pengungsi—sebuah pencapaian yang menandakan keberhasilan strategi pencegahan.

Di samping itu, PMI juga berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk pengamanan. Pada malam Rabu, 19 Februari 2025, petugas keamanan dari Kepolisian Sektor Karawang Kota, dipimpin oleh Bhabinkamtibmas Aipda Deni Setiawan, membantu menjaga ketertiban selama distribusi logistik kesehatan, memastikan semua penyintas menerima alat-alat yang dibutuhkan untuk Mencegah Penyakit tanpa adanya kerumunan yang tidak teratur.

Dengan fokus pada sanitasi yang ketat, air bersih yang terjamin, dan edukasi masif, PMI berhasil menunjukkan bahwa intervensi pencegahan jauh lebih efektif dan ekonomis daripada penanganan wabah yang sudah terjadi. Upaya terpadu ini adalah jurus jitu PMI dalam Mencegah Penyakit dan menjaga martabat serta kesehatan para penyintas bencana.

Mungkin Anda juga menyukai