Kejang: Penyebab, Jenis, dan Cara Memberikan Pertolongan Pertama yang Aman

Kejang adalah kontraksi otot yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak terkontrol, yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis. Memahami penyebab kejang, mengenali jenis-jenis kejang, dan mengetahui cara memberikan pertolongan pertama yang aman sangat penting untuk membantu individu yang mengalaminya dan mencegah cedera lebih lanjut. Artikel ini akan membahas aspek-aspek tersebut secara ringkas.

Penyebab kejang sangat beragam. Pada anak-anak, demam tinggi (kejang demam) merupakan penyebab yang umum. Pada orang dewasa, kejang dapat disebabkan oleh epilepsi, cedera kepala, stroke, tumor otak, infeksi otak (seperti meningitis atau ensefalitis), gangguan elektrolit, kadar gula darah yang sangat rendah atau tinggi, keracunan, atau penghentian alkohol atau obat-obatan tertentu secara tiba-tiba. Identifikasi penyebab yang mendasari penting untuk penanganan jangka panjang.

Terdapat beberapa jenis kejang, yang dibedakan berdasarkan gejala dan bagian otak yang terlibat. Kejang umum melibatkan seluruh otak dan seringkali ditandai dengan hilangnya kesadaran serta kontraksi otot seluruh tubuh (kejang tonik-klonik atau grand mal). Kejang absans (petit mal) biasanya singkat dan ditandai dengan tatapan kosong atau hilangnya kesadaran sesaat tanpa gerakan motorik yang signifikan. Kejang fokal (parsial) hanya melibatkan sebagian otak dan gejalanya bervariasi tergantung area otak yang terpengaruh, bisa berupa gerakan menyentak pada satu anggota tubuh, perubahan sensasi, atau gangguan perilaku sesaat tanpa kehilangan kesadaran.

Ketika seseorang mengalami kejang, penting untuk tetap tenang dan bertindak dengan aman. Jangan mencoba menahan gerakan kejang atau memasukkan benda apapun ke dalam mulut pasien. Tindakan ini justru dapat menyebabkan cedera pada pasien atau penolong.

Cara memberikan pertolongan pertama yang aman saat seseorang kejang adalah sebagai berikut:

  1. Baringkan pasien di tempat yang datar dan aman, jauh dari benda-benda tajam atau keras yang dapat menyebabkan cedera.
  2. Lindungi kepala pasien dari benturan dengan mengganjalnya menggunakan bantal, selimut, atau pakaian yang lembut.
  3. Longgarkan pakaian yang ketat di sekitar leher pasien untuk mempermudah pernapasan.
  4. Miringkan tubuh pasien ke satu sisi (posisi pemulihan) setelah kejang mereda untuk membantu mengeluarkan air liur atau muntahan dan menjaga jalan napas tetap terbuka.
  5. Perhatikan dan catat durasi kejang serta gejala yang terjadi. Informasi ini penting untuk disampaikan kepada petugas medis.

Mungkin Anda juga menyukai