Pelatihan Psikososial: Membekali Relawan Muda PMI dengan Empati dan Dukungan Emosional

Bencana alam, seperti gempa bumi dan banjir, tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga luka mendalam pada kondisi psikologis penyintas. Di sinilah peran penting Pelatihan Psikososial hadir untuk membekali para relawan, khususnya dari Palang Merah Indonesia (PMI), agar mampu memberikan dukungan emosional yang tepat. Bekerja sama dengan Kementerian Sosial, PMI Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan sebuah pelatihan khusus bagi 50 relawan muda dari berbagai cabang di Jawa Barat. Pelatihan ini diadakan selama tiga hari, mulai dari 27 hingga 29 Mei 2025, di Pusat Pelatihan PMI, Bandung.

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Bapak Muhammad Syafei, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Provinsi Jawa Barat, ini bertujuan memperkuat kapasitas relawan dalam menghadapi situasi krisis. “Kami berharap para relawan tidak hanya sigap dalam bantuan logistik, tetapi juga peka terhadap kebutuhan psikologis masyarakat yang terdampak,” ujar Bapak Syafei dalam sambutannya. Materi pelatihan mencakup berbagai topik krusial, mulai dari pengenalan dasar Pertolongan Pertama Psikologis (PFP), teknik mendengarkan aktif, hingga strategi penanganan trauma pada anak-anak dan lansia. Pendekatan phrasing dinamis yang digunakan dalam sesi ini memungkinkan para peserta untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkannya melalui simulasi dan studi kasus.

Salah satu materi yang paling menarik perhatian adalah sesi “Membangun Ruang Aman” yang dibawakan oleh Ibu Dr. Lia Handayani, seorang psikolog klinis. Beliau menjelaskan pentingnya menciptakan lingkungan yang membuat penyintas merasa nyaman dan didengar tanpa dihakimi. “Dukungan emosional yang tulus dan non-intervensi sangat vital. Kadang, yang mereka butuhkan hanyalah seseorang untuk mendengarkan cerita mereka,” kata Ibu Lia. Para relawan diajarkan bagaimana berinteraksi secara efektif, menghindari pertanyaan yang bersifat interogatif, dan sebaliknya, menggunakan kalimat yang mengundang mereka untuk berbagi.

Selain materi teoritis, para peserta juga mengikuti lokakarya praktis yang mensimulasikan kondisi di lapangan. Mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diberikan skenario bencana. Misalnya, satu kelompok ditugaskan untuk berinteraksi dengan “korban” anak-anak yang kehilangan mainan kesayangan, sementara kelompok lain harus menghadapi “penyintas” dewasa yang menunjukkan gejala stres pasca-trauma. Latihan ini tidak hanya mengasah empati, tetapi juga melatih ketangguhan mental para relawan. Mereka belajar bahwa respons yang tenang dan penuh kasih jauh lebih efektif daripada panik atau terlalu terburu-buru.

Di hari terakhir, pelatihan ditutup dengan upacara sederhana dan pemberian sertifikat kepada para peserta. Bapak Syafei menyampaikan apresiasinya dan berpesan agar ilmu yang didapat tidak berhenti di ruang pelatihan. “Implementasikan setiap pelajaran yang kalian terima, baik dalam tugas kebencanaan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah agen perubahan yang membawa dampak positif, tidak hanya secara fisik tetapi juga emosional,” pesannya. Dengan bekal ini, para relawan muda PMI diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat bangkit dari keterpurukan, membuktikan bahwa kehadiran mereka tidak hanya sebagai pembawa bantuan fisik, melainkan juga sebagai penopang harapan melalui phrasing dinamis yang mampu menenangkan hati. Pelatihan psikososial ini merupakan investasi penting dalam kemanusiaan, memastikan bahwa setiap korban bencana mendapatkan dukungan yang layak untuk pulih seutuhnya.

Mungkin Anda juga menyukai